Grosse, Jakarta - GrosseLifeStyle kali ini bersama Emilia Retno Trahutami Sushanti, SH, MKn, salah satu anggota Komunitas Notaris Indonesia Berkebaya (KNIB). Dimana beliau konsisten berkebaya setiap hari Selasa, bahkan menurut informasi bahwa kebaya yang dimiliki lebih banyak hasil desainnya sendiri. Oleh karena itu, dalam tayangan GrosseLifeStyle akan mengulas seputar kebaya.
Lebih lanjut lagi, Emilia yang menjadi anggota Komunitas Notaris Indonesia Berkebaya (KNIB), mengutarakan bahwa bentuk paling awal kebaya berasal dari istana Kerajaan Majapahit yang dikenakan para permaisuri atau selir raja, sebagai sarana untuk memadukan pakaian kemben perempuan yang sudah ada."Kain pembebat dan penutup dada perempuan bangsawan, agar menjadi lebih sopan dan dapat diterima. Sebelum adanya pengaruh Islam, masyarakat Jawa pada abad ke-9 telah mengenal beberapa istilah untuk mendeskripsikan jenis pakaian, seperti kulambi (bahasa Jawa: klambi, baju), sarwul (bahasa Jawa: sruwal, celana), dan ken (kain atau kain panjang yang dililit di pinggang)," tuturnya.
Namun, saat ini kebaya telah benyak berkembang mengikuti perkembangan zaman sehingga lebih modis. "Perkembangan tersebut, adopsi busana yang lebih sopan dikaitkan dengan pengaruh Islam di Nusantara. Aceh, Riau, Johor, dan Sumatra Utara mengadopsi gaya kebaya Jawa sebagai sarana ekspresi status sosial dengan penguasa Jawa yang lebih alus atau halus," ujar Emilia.
Kebaya perlahan-lahan menyebar ke daerah-daerah tetangga melalui perdagangan, diplomasi, dan interaksi sosial ke Malaka, Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Kesultanan Sulu, dan Mindanao.
"Bahkan Kebaya Jawa seperti yang ada sekarang telah dicatat oleh Thomas Stamford Bingley Raffles pada tahun 1817, sebagai sutra, brokat dan beludru, dengan pembukaan pusat dari blus diikat oleh bros, bukan tombol dan tombol-lubang di atas batang tubuh bungkus kemben," jelas Emilia.
Lebih lanjut, Emilia mengutarakan bahwa bukti fotografi paling awal tentang kebaya yang dikenal saat ini berasal dari tahun 1857 yang bergaya Jawa, Peranakan, dan Oriental. Pada kuartal terakhir abad ke-19, kebaya telah diadopsi sebagai busana yang disukai wanita di Hindia Belanda yang beriklim tropis, baik dikenakan oleh pribumi Jawa, kolonial Europa dan orang Indo, serta Tionghoa Peranakan.
"Sekitar tahun 1500-1600, di Pulau Jawa, kebaya adalah pakaian yang dikenakan keluarga kerajaan Jawa saja. Kebaya juga menjadi pakaian yang dikenakan keluarga Kesultanan Cirebon, Kesultanan Mataram dan penerusnya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat," tukasnya. Kini, nyonya kebaya mengalami pembaharuan, dan juga terkenal di antara wanita non-Asia. Variasi kebaya yang lain juga digunakan keturunan Tionghoa Indonesia di Cirebon, Pekalongan, Semarang, Lasem, Tuban dan Surabaya. "Kebaya telah dinyatakan sebagai busana nasional Indonesia meskipun ada kritik bahwa kebaya hanya digunakan secara luas di Jawa dan Bali. Kebaya sebenarnya juga ditemukan di Sumatra, Sulawesi dan NTT dengan corak daerah. Tokoh politik seperti Kartini memakai kebaya. Dan peringatan hari Kartini dilakukan dengan menggunakan kebaya," papar Emilia.
Kebaya pada masa sekarang telah mengalami berbagai perubahan desain. Pada umumnya Kebaya sering digunakan pada pesta perayaan tertentu. Dari mulai pesta formal dengan rekan bisnis, pernikahan, perayaan acara tradisional, hingga perayaan kelulusan sekolah seperti wisuda. "Oleh karena itu, kita harus melestarikan kebudayaan Indonesia ini, dan kalau saya selalu mengenakan kebaya setiap hari Selasa," katanya mengakhiri percakapan. Semoga bermanfaat Salam kompak dan sukses selalu dari MGD dan GrosseTV
Luar biasa mbak emil
BalasHapus